Widget HTML Atas

E-Commerce Kian Menjamur, Jadi Budaya?

 


Shopping dalam bahasa Indonesia berarti belanja. Kata belanja dalam KBBI (2002:999) berarti uang yang dikeluarkan untuk suatu keperluan ongkos atau biaya. Sedangkan menurut Huddleston dan Minahan (2011) mendefinisikan aktifitas berbelanja sebagai aktifitas yang melibatkan pertimbangan pembelian suatu produk maupun jasa, mencari toko yang menyediakan produk ataupun jasa yang terbaik, pencarian produk ataupun jasa yang diinginkan di dalam toko tersebut, serta menentukan keputusan untuk membeli.

Individu dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan yang dimiliki dapat melakukan sebuah aktifitas pembelian terhadap barang atau pun jasa yang sesuai sehingga kebutuhan dan keinginan tersebut dapat terpenuhi. Semua kebutuhan primer dan sekunder dapat dipenuhi melalui kegiatan belanja. Menurutt Amstrong (1991), perilaku belanja konsumen dalam membeli sesuatu produk dicerminkan melalui intensitas dalam konsumsi suatu produk tertentu, cara pembelian yang mereka lakukan, dan waktu pembelian.

Kemajuan social ekonomi yang begitu pesat, di tambah masuknya budaya yang cenderung di dominasi oleh budaya barat atau westernisasi serta di tandai dengan majunya industrialisasi, tapi lebih itu  kebudayaan jenis ini membawa masyarakat pada fenomena globalisasi. 

Gaya hidup modeernisasi yang ditularkan dari budaya barat terlihat lebih oke dibandingkan budaya sendiri.  Jadi yang ditiru sebatas pada mode, padahal yang diharapkan adalah rasionalitas dan cara berfikir. Perkembangan ini tidak lepas dari tingginya kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup tiap harinya, dari tingginya seseorang memenuhi kebutuhannya berpengaruh juga pada tingginya pendapatan orang dan menyebabkan taraf hidup mereka lebih baik lagi dan meningkat. 

Hal ini membawa dampak pola perilaku berbelanja seseorang, di mana semakin meningkatnya taraf hidup seseorang maka tuntutan akan tempat berbelanja yang nyaman dan dapat menyediakan segala kebutuhan konsumen dalam suatu lokasi semakin di butuhkan. Perkembangan yang terus menerus berlangsung dalam usaha perdangangan ini menunjukkan bahwa usaha perdagangan bersifat dinamis. Hal ini terjadi tidak lain karena usaha perdagangan ingin selalu berusaha memenuhi, memuaskan kebutuhan dan keingin konsumen (perdagangannya).

Selain itu di jaman ini mulai banyak konsumen yang mayoritas wanita baik ibu rumah tangga, remaja atau orang dewasa. Maka dari itu banyak toko yang berlomba -- lomba untuk menjual beragam varian barang atau jasa kebotuhan wanita. Di mana biasa disebut dengan pasar ibu rumah tangga adalah segmen pasar yang sangat menggiurkan, mengingatukuran (market size) dan pertumbuhannya (market growth) yang fantastis. 

Hal yang dahulu hanya di pandang sebelah mata oleh para pemasar karena banyak yang menganggap bahwa ibu atau wanita  hanyalah konsumen tingkat bawah. Namun pada kenyataannya wanita dapat memicu domino effect, di mana wanita dapat mempengaruhi pembelian keluarga lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa peran ekonomi wanita sangatlah besar. Hal ini disebabkan faktor adanya perubahan yang terjadi dari sisi demografis, ekonomi, sosial, dan budaya pada wanita yang menyebabkan dominasi kaum wanita semakin kuat pada umumnya. 

Selain itu pada saat ini banyak partisipasi kaum wanita di dunia lapangan kerja yang naik menjadi 60% pada tahun 2000  sehingga  Ini menunjukkan bahwa wanita memiliki kemampuan ekonomis tanpa harus bergantung pada penghasilan yang diberikan suami sehingga akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam pembelian.

Pada saat ini masyarakat banyak mengalami beralih fungsi, perkembangan, seperti perkembangan teknologi, gaya hidup, ekonomi, bahkan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat dengan berubahnya sistem adat istiadat yang mereka punya.  Ditambah pada jaman digital seperti sekarang berbelanja menjadi semakin mudah dengan adanya media elektronik. Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce terbesar didunia. E-commerce merupakan aktivitas penyebaran, penjualan, pembelian, pemasaran produk dengan memanfaatkan jaringan internet. 

Dimana hal ini mengakibatkan perilaku konsumtif semakin meningkat. Hal ini disebabkan berbelanja online membebaskan konsumen dari kunjungan ke toko untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Dalam psikologi dikenal istilah compulsive buying disorder (kecanduan belanja) orang yang terjebak didalamnya tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan (Hidayah, 2015).

Masyarakat Indonesia memang sudah dikenal sebagai masyarakat konsumtif. Saat barang-barang yang dimiliki masih berfungsi, tetapi ketika produk terbaru keluar maka terdapat kecenderungan untuk membeli produk baru. Dasarnya adalah mengikuti perkembangan terbaru atau trend dan memiliki kekuatan finansial untuk membelinya tanpa terlalu mempertimbangkan fungsi dasarnya. (Hidayah, 2015). Ratusan situs web dan aplikasi sedang dibuat dan digunakan setiap tahun untuk memenuhi permintaan tren belanja yang nyaman ini yang terus meningkat (Bashir, 2015). 

Didukung dengan hadirnya situs aplikasi belanja online pada smarthphone seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, Alibaba, Bukalapak, OLX dan masih banyak ragam lagi baik situs belanja local atau pun mancanegara. Beserta kemudahan dalam penggunaannya menjadikan alternatif bagi masyarakat dikarenakan lebih nyaman daripada belanja offline yang biasanya dihubungkan dengan keramaian, kecemasan, kemacetan lalu lintas, waktu yang terbatas, pengeluaran berlebih karene memerlukan biaya transportasi untuk menuju pusat perbelanjaan dan keterbatasan tempat parkir. 

Kemudian pada saat ini perbedaan berbelanja terlah berubah 1800. Di masa yang canggih ini kita tinggal duduk dirumah sambil memilih barang belanjaan lewat aplikasi Setelah itu kita tinggal menunggu barang tersebut dikirim dan barang tersebut akan datang sendiri ke rumah kita dengan bantuan kurir. Selain itu adanya tawaran diskon pada tanggal cantik di aplikasi berbelanja online juga membuat sikap konsumerisme masyarakat jadi meningkat.

Adanya penambahan fitur belanja online menjadikan masyarakat kecanduan untuk mengkonsumsi aplikasi tersebut. Bagaimana tidak, belanja online saat ini kian hari kian berkembang dan secara bertahap  menggantikan toko trandisional karena membebaskan konsumen dari kunjungan ke toko untuk mendapatkan barang yang diinginkan  (Ridwan, 2018). Ratusan situs web dan aplikasi sedang di buat dan digunakan setiap tahun untuk memenuhi permintaan tren belanja yang nyaman ini yang terus meningkat (Bashir, 2015). Hanya perlu menghubungkan ke internet konsumen dapat melakukan transaksi jual beli online di mana saja  dan kapan saja ( Rohini, 2018). Kemudahan konsumen untuk membeli dan mengembalikan barang memiliki kemungkinan mengarah pada konsumsi yang lebih besar (Oskarsdottir, 2016).

Kemudahan dalam bertransaksi dengan menggunakan aplikasi belanja online semakin meningkat di dorong dengan munculnya digital payment. Digital payment atau sistem pembayaran non tunai berbeda dengan pembayaran tunai (uang dalam bentuk fisik). Pada umumnya pembayaran non tunai atau pembayaran konvensional dilakukan melalui kegiatan transfer antar bank. Selain itu, pembayaran non tunai menggunakan fasilitas yang diberikan oleh bank sebagai alat pembayaran, seperti kartu ATM, kartu debit maupun uang elektronik (e--money). 

BACA SELENGKAPNYA Saat ini pembayaran non tunai kian canggih dimana dalam sistem pembayaran sudah memanfaatkan jejaring internet, di mana hal ini menjadi faktor pemicu mahasiswa untuk berambisi menggunakannya. Karena hanya dengan menggunakan gadget android yang tersambung dengan internet semua transaksi pembayaran dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Alasan kemudahan pembayaran menjadi faktor daya tarik situs jualbeli ( Ridwan, 2018).


Tidak ada komentar untuk "E-Commerce Kian Menjamur, Jadi Budaya?"