Widget HTML Atas

Gunung Gede: Bukan Hanya Perihal Keindahan, tetapi Esensi dari Sebuah Perjalanan

 


Seorang pendaki pernah berkata "pendakian pertamamu akan menentukan langkah selanjutnya, entah kapok dan tidak akan pernah lagi atau jatuh hati dan selalu ingin kembali". Sepertinya saya terjebak pada pilihan yang kedua. Ya, saya jatuh hati pada pendakian yang pertama.


Selasa, 7 Desember 2021. Mentari telah terlelap tatkala kami berkumpul di salah satu rumah kawan yang berada di Depok untuk kembali memeriksa barang bawaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tepat pukul 10.00 malam, semuanya telah siap dan kami memutuskan untuk memulai perjalanan menuju basecamp Gunung Gede Via Putri yang menjadi titik awal pendakian. Jalur Gunung Gede Via Putri ini kami pilih karena memiliki track yang cenderung lebih singkat dibandingkan 2 jalur lainnya, yaitu Jalur Cibodas dan Jalur Selabintana.


Perjalananpun dimulai. Ban motor yang dingin mulai mengaspal melintasi Jalanan Bogor yang cukup sepi malam itu, ditemani oleh ocehan kawan yang seakan ingin membantu saya untuk tetap fokus dan terjaga saat berkendara. di tengah perjalanan, tepatnya di kawasan Puncak Bogor, rintik air mulai membasahi jalan. Udara yang tadinya sejuk berubah menjadi amat dingin, tangan yang tadinya tegas menarik gas kini dipaksa melemas dan kaku karena dinginnya cuaca saat itu. Karena tidak kuat menerjang guyuran hujan, maka kamipun menepi untuk berteduh. Karena kebodohan dalam sebuah perjalanan adalah ketika kita terlalu memaksakan keadaan tanpa adanya persiapan. Dan kami cukup bodoh, telah mencoba menerjang hujan pada saat itu tanpa adanya persiapan.


Hujan mulai mereda, kamipun kembali melanjutkan perjalanan ditemani kabut tebal yang ber-iringan seolah menyambut kedatangan saya dan dua kawan lainnya dengan penuh antusias. Rasanya seperti berharap pada senyummu yang artinya sulit untuk dicari tahu. Cemas, takut, tapi menyenangkan untuk terus berada didalamnya.  


Setelah berkendara sekitar 2 jam 30 menit dari Depok, kamipun sampai di Basecamp Gunung Gede Via Putri yang lokasinya tidak jauh dari Pasar Cipanas. Perlu diketahui bahwa basecamp Gunung Gede via Putri ini memiliki akses yang cukup curam, bahkan terdapat beberapa basecamp yang hanya bisa dilalui kendaraan beroda dua.


Kami tiba di basecamp sekitar pukul 12.30 dini hari, setibanya di basecamp "Warung Abah Anwar" (salah satu basecamp favorit di jalur Gunung Gede via Putri), kami langsung memarkirkan kendaraan kami yang dikenakan tarif sebesar Rp.10.000/motor dan kemudian sejenak menikmati teh hangat sembari berbincang dengan beberapa pendaki lain. Tidak lama kami berbincang, rombongan kamipun memutuskan untuk beristirahat menyiapkan fisik untuk pendakian esok pagi. Untuk biaya menginap sendiri dikenakan tarif sebesar Rp. 10.000/orang.


Rabu, 8 Desember 2021. Mentari pagi telah kembali dari pengasingannya, sinarnya yang menerobos masuk melalui jendela basecamp seakan meneriaki kami untuk segera bangun. Hal ini menandakan bahwa kami seharusnya sudah bersiap untuk melakukan pendakian atau dengan kata lain, kami kesiangan.


Kamipun segera menyusun kembali isi tas dan langsung sarapan sembari mengumpulkan informasi mengenai cara mendapatkan izin mendaki melalui pendaki lain dan penjaga warung. Syahdan, setelah beberapa prosedur yang kami jalani, akhirnya kami bisa mendapatkan surat izin mendaki dengan tarif Rp. 50.000 termasuk surat sehat.


Saran saya, jika ingin mendaki Gunung Gede via Putri ini sebaiknya sudah memiliki kenalan terlebih dahulu, seperti penjaga basecamp yang kontaknya dapat dicari dan dihubungi melalui whatsapp atau Instagram, supaya dapat mengurus surat izin mendaki dengan lebih mudah dan praktis. Maklum, wisata di Jawa Barat memang berbelit-belit prosedurnya.


Pendakianpun dimulai sekitar pukul 07.30 WIB, dengan track awal berkontur bebatuan dan tanah yang disuguhi dengan pemandangan perkebunan warga dan gumpalan awan yang berada di ujung desa, yang membuat kita seakan berada diatas awan. Perjalanan dari basecamp awal hingga pos 3 (lawang seketeng), tempat dimana kami akan beristirahat untuk makan siang dan merebahkan tubuh sejenak, memakan waktu 4 jam pendakian dengan track yang cukup terjal dan didominasi oleh tanah berundak, bebatuan dan akar pohon yang menjalar. setibanya di pos 3, kami lekas beristirahat sembari memasak mie sebagai makan siang agar fisik tetap fit dan bugar untuk melanjutkan pendakian. Oh iya, sebelum melakukan pendakian ini, kami sudah sempat diingatkan oleh pihak basecamp bahwa track dari pos 3 sampai pos 5 itu sangat terjal dan sebaiknya kami mengatur pola berjalan dan waktu istirahat lebih disiplin lagi.


Benar saja,  perjalanan dari pos 3  hingga pos 5 (Alun-Alun Surya Kencana) menjadi track yang paling berat dan melelahkan menurut saya. Kami membutuhkan waktu 4,5 jam untuk menuntaskan track ini. Konturnya yang licin dan berbatu, berpadu dengan akar jalar yang besar, serta tebing-tebing yang terjal dan curam menyulitkan langkah pendakian. Ingin terus berjalan, namun kaki sudah tak lagi terasa menapak, pundakpun sudah tak kuat menahan beban, terlalu lama berhenti juga akan berakibat fatal karena dinginnya udara yang terus menusuk kulit, bahkan di jalur ini saya sempat memiliki keraguan besar untuk melanjutkan pendakian, terlintas dalam benak untuk turun saja, tetapi banyak pendaki lain yang menyemangati kami, dua kawan sayapun terus meyakinkan saya bahwa kami bisa menuntaskan perjalanan ini. Dan pada akhirnya terus berjalan walaupun lamban dan banyak berhenti adalah satu-satunya pilihan.


Setelah perjuangan melalui track yang melemahkan mental dan fisik, akhirnya kami tiba di pos 5, tempat kami dapat beristirahat sepenuhnya, karena pos 5 ini menjadi pos terakhir sebelum menuju puncak dan pos pilihan kami untuk mendirikan tenda. setelah tenda berdiri kokoh, kamipun memasak, kemudian berbincang dan tertawa bersama tanpa beban di dalam tenda  hingga malam tiba, dan akhirnya kamipun terlelap dengan cukup nyenyak bersama deburan angin dingin yang memaksa kami untuk tetap tertidur sembari menanti pagi yang kembali menyapa.

Tepat pukul 05.00 WIB, dering alarm membangunkan kami, itu artinya kami harus segera bersiap untuk mendaki ke puncak Gunung Gede. Cuaca pagi itu terlihat cerah dan tidak berkabut meski tanpa disinari matahari. Jarak dari camp kami ke puncak tidak terlalu jauh, hanya berjalan menanjak sekitar 30-45 menit. Pendakian menuju puncak juga seharusnya tidak terasa berat karena kami tidak membawa beban seperti pendakian sebelumnya.

Pendakian menuju Puncak Gede pun dimulai pukul 06.00 WIB, Setiap langkah yang saya tapakkan saat itu terasa bergetar, perasaan campur aduk menyelimuti tubuh ini, yang terlintas dalam benak saya hanyalah kekaguman yang tiada henti. Mimpi kami bertiga selama ini untuk melakukan pendakian akhirnya terealisasi, walaupun banyak rintangan dan dibayang-bayangi keraguan. Setelah berjalan menanjak sekitar 30 menit, vegetasipun mulai terbuka, cahaya terang menelisik dari balik daun dan batang pohon. Akhirnya kamipun tiba di "atap" Jawa Barat. Tangis haru kami bertiga pecah seketika, rasanya mustahil untuk 3 orang pemimpi yang tak tahu kapan harus bangun, akhirnya mampu menapakan kaki di Puncak Gunung Gede. 8,5 jam perjalanan kami terbayarkan oleh keindahan lukisan tangan Sang Pencipta yang tak mampu diungkapkan oleh kata.

BACA SELENGKAPNYA Selepas puas mensyukuri dan mengagumi bentang alam yang terlihat dari Puncak Gunung Gede kami memutuskan untuk segera kembali ke tenda, berkemas dan kemudian kembali pulang. Karena tujuan sesungguhnya dari sebuah pendakian bukanlah puncak, melainkan pulang pada pelukan ibu dan bapak, dan yang akan dikenang suatu saat nanti juga bukan hanya puncak, melainkan esensi dari sebuah perjalanan.


Tidak ada komentar untuk "Gunung Gede: Bukan Hanya Perihal Keindahan, tetapi Esensi dari Sebuah Perjalanan"