Widget HTML Atas

Sego Tumpang Lethok Khas Klaten

 


NASI tumpang lethok bisa jadi pilihan menu sarapan mengenyangkan. Ada nasi dengan aneka sayur dicampur parutan kelapa, lalu disiram kuah sambal tumpang atau sambal lethok dari campuran tempe, santan hingga bumbu rempah lainnya.

Warung nasi tumpang lethok mudah dijumpai di sepanjang Jalan Mayor Kusmanto, Desa Semangkak, Kecamatan Klaten Tengah. Salah satunya dikelola oleh Riyanti, 46, yang sudah berjualan kuliner khas Kota Bersinar itu selama 21 tahun. Di tangannya, nasi tumpang lethok dikembangkan dengan berbagai isian lain, seperti koyor, telur rebus hingga krecek.

Tertarik berjualan nasi tumpang lethok berawal dari tradisi kampungnya yang sering mengadakan syukuran dengan sajian nasi gudangan. Lantas, Riyanti mengembangkannya dengan menambahkan sambel lethok dilengkapi tahu putih maupun tahu pong. Bahkan, kini ditambahkan urat-urat sapi yang lebih dikenal dengan koyor sampai telur rebus dan krecek.

”Kunci cita rasa dari nasi tumpang lethok itu ada di saat proses memasak lethok itu sendiri. Apalagi lethok ini dibuat dari tiga macam tempe yang berbeda mulai tempat segar, tempe bacem, dan tempe semangit. Ditambah beberapa rempah-rempah yang takarannya harus sesuai,” jelas Riyanti ditemui Jawa Pos Radar Solo di warungnya.

Lethok diolah sejak sore hari meski baru akan disajikan pada pagi harinya. Tidak bisa dibuat secara mendadak karena dipastikan bumbu tidak akan meresap pada tahu yang dimasak secara bersamaan tersebut.

Sementara itu, aneka sayuran yang digunakan dalam nasi tumpang lethok meliputi daun pepaya, tauge, kacang panjang hingga bayam telah direbus hingga matang. Kemudian ditambahkan parutan kelapa hingga bubuk kedelai. Tak ketinggalan pula, daun kemangi juga diletakan pada bagian atasnya.

”Kita tidak hanya menyajikan nasi tumpang lethok saja, tetapi kita variasikan dengan isian lainnya. Seperti tambahan irisan koyor yang memiliki pelanggan tersendiri. Bahkan, ada pelanggan kita yang begitu menyukai koyor, kalau sudah habis tidak jadi memesan,” ucap Riyanti.

Diakuinya, nasi tumpang lethok koyor tetap jadi primadona pelanggan yang mampir ke warungnya. Meski begitu, bagi yang tidak menyukai urat sapi bisa memilih isian lainnya. Seperti dengan telur ayam rebus hingga krecek yang merupakan kulit sapi dalam bentuk kering menyerupai kerupuk.

Riyanti pun juga menyediakan nasi tumpang lethok lengkap dengan irisan koyor, telur rebus dan krecek dalam satu porsi. Biasanya juga akan dilengkapi dengan aneka lauk lainnya seperti gorengan tempe, bakwan, dan sosis. Begitu juga kerupuk dan karak hingga sambal belut juga bisa jadi teman saat menyantap kuliner khas Klaten tersebut.

”Pelanggannya sendiri tidak hanya dari Klaten, tetapi juga Solo dan Jogja yang kebetulan melintasi warung. Bahkan, ada pelanggan kami dari Jakarta setiap dua minggu berkunjung di Klaten selalu menyempatkan menyantap seporsi nasi tumpang lethok,” ucapnya.

BACA SELENGKAPNYA Harga satu porsi nasi tumpang lethok buatan Riyanti itu mulai dari Rp 8.000 per porsi. Ada pula yang harganya Rp 12.000-Rp 23.000 per porsi, tergantung isian yang hendak disantap. Dari berjualan nasi tumpang lethok itu kini bisa meraup omzet Rp 2 juta hingga Rp 4 juta setiap harinya.

Tidak ada komentar untuk "Sego Tumpang Lethok Khas Klaten"