Widget HTML Atas

Inflasi Tinggi di AS Bakal Picu Resesi, Bisa Merembet ke RI?


Tingginya inflasi di Amerika Serikat membuat bank sentralnya (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga dengan sangat agresif.
Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di Amerika Serikat (AS) kini sudah menembus 8,5% (year-on-year/yoy) di bulan Maret, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 7,9% (yoy). Inflasi tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember 1981. Inflasi CPI inti tumbuh 6,5% (yoy) dari sebelumnya 6,4% (yoy).

Sementara itu inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE) yang menjadi acuan The Fed tumbuh 6,4% (yoy) di bulan Februari, dan inflasi inti PCE sebesar 5,4% (yoy). Inflasi PCE tersebut menjadi yang tertinggi dalam nyaris 40 tahun terakhir.

Inflasi tersebut tiga kali lipat lebih tinggi dari target The Fed, yakni rata-rata 2%. Alhasil, pada bulan depan bank sentral paling powerful di dunia ini akan menaikkan suku bunga 50 basis poin di bulan Mei.

Ketua The Fed, Jerome Powell, dini hari tadi juga mengatakan kenaikan 50 basis poin akan didiskusikan saat pertemuan kebijakan moneter 3 dan 4 Mei (waktu setempat).

"Dengan inflasi yang tiga kali lebih tinggi dari target 2%, akan tepat untuk bergerak sedikit lebih cepat. Kenaikan suku bunga 50 basis poin akan dibicarakan pada pertemuan bulan Mei," kata Powell dalam diskusi ekonomi pada pertemuan Dana Moneter International (IMF) sebagaimana dilansir Reuters.

Namun, dengan The Fed yang bertindak lebih agresif, semakin banyak analis yang melihat Amerika Serikat akan mengalami resesi.

"Saya melihat probabilitas 30% Amerika Serikat memasuki resesi dalam 12 bulan ke depan, dan probabilitas tersebut terus meningkat," kata kepala ekonomi Moody's Analytics Mark Zandi.

Powell sendiri mengakui tugas The Fed saat ini sangat menantang, melandaikan inflasi tanpa membuat perenkomian AS mengalami pelambatan signifikan hingga resesi.

"Target kami menggunakan instrumen yang kami miliki untuk kembali mengsinkronkan supply dengan demand... dan tanpa membuat pelambatan yang bisa membawa perekonomian resesi. Itu akan sangat menantang," kata Powell.

Meski The Fed akan sangat agresif menaikkan suku bunga, tetapi sejauh ini tidak ada gejolak di pasar finansial global, begitu juga di dalam negeri. Nilai tukar rupiah masih stabil sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, bahkan investor asing melakukan beli bersih lebih dari Rp 41 triliun sepanjang tahun ini.

Hanya pasar obligasi yang mengalami tekan, dan terjadi capital outflow puluhan triliun.

Untuk diketahui, The Fed di tahun ini berencana menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali, kenaikan pertama sudah dilakukan Maret lalu sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% - 0,5%.

Alhasil, yield obligasi AS (Treasury) terus menanjak, yang memberikan tekanan ke Surat Berharga Negara (SBN).

Pelaku pasar sebenarnya sudah menakar kemungkinan kenaikan 50 basis poin di bulan Mei bahkan juga di bulan Juni, sehingga tidak ada gejolak di pasar finansial.
Powell juga melihat jika investor sudah price in, dengan menyebut mereka bereaksi dengan tepat secara umum.

Spekulan juga sudah menakar kemungkinan terjadinya resesi di Amerika Serikat, apalagi setelah yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun mengalami inversi akhir Maret lalu.
Hampir setiap terjadi inversi, maka Amerika Serikat akan mengalami resesi.

Berdasarkan riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018 lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu resesi (false signal).

Pada tahun 2018 lalu, The Fed juga agresif menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali. Inversi kemudian muncul di 2019, dan perekonomian AS akhirnya mengalami resesi di 2020 meski penyebab utamanya yakni pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Resesi merupakan hal yang biasa terjadi, Amerika Serikat bahkan sudah berulang kali mengalami resesi.

Meski sudah biasa terjadi, tetapi efeknya cukup buruk. PDB seperti disebutkan sebelumnya mengalami penurunan, kemudian pendapatan masyarakat menurun, begitu juga dengan aktivitas manufaktur serta penjualan ritel. Tingkat pengangguran juga akan mengalami kenaikan.

Amerika Serikat merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, ketika mengalami pelambatan atau bahkan sampai resesi maka negara-negara lain akan ikut terseret.

Posisi Amerika Serikat juga cukup penting bagi Indonesia, sebab merupakan mitra dagang terbesar kedua setelah China.

Sepanjang 2021, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar US$ 25,8 miliar, yang berkontribusi 11,75% terhadap total ekspor. Ketika resesi terjadi, permintaan dari negara adidaya tersebut tentunya akan menurun.

Tahun 2020 saat AS mengalami resesi, Indonesia juga ikut menyusul. Tetapi faktor utamanya kala itu yakni pandemi Covid-19. Tidak hanya AS dan Indonesia, banyak negara juga mengalami hal yang sama.

BACA SELENGKAPNYA Jika melihat ke belakang, resesi yang dialami AS pada periode 2007 hingga 2009 serta krisis finansial global memang tidak membuat Indonesia mengalami resesi, tetapi cukup membuat produk domestik bruto (PDB) mengalami pelambatan. Pada kuartal I-2009, PDB Indonesia terjun ke bawah 5% (yoy), dan baru bisa kembali lagi ke atasnya di kuartal IV-2009.

SUMBER: cnbcindonesia.com


 


Tidak ada komentar untuk "Inflasi Tinggi di AS Bakal Picu Resesi, Bisa Merembet ke RI?"