Widget HTML Atas

Menjaga Perdamaian Dunia Ala Masyarakat Toraja dengan Ritual Tudang Sipulung


GANDANGBATU.COM - Masyarakat Toraja tak hanya memiliki tradisi Ma' Nene', ritual untuk menghormati para leluhurnya. Tapi, ada juga ritual yang kerap dilakukan masyarakat Toraja untuk menjaga perdamaian dunia.

Perkelahian antar-pemuda di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Tana Toraja, rawan berubah menjadi besar dan melibatkan warga antar-desa. Hal ini tak jarang terjadi jika konflik tersebut tidak diselesaikan dengan baik.

Namun bagi warga Toraja yang masih kental dengan adat istiadatnya atau budaya leluhurnya, perkelahian yang bisa berdampak luas tersebut dapat diatasi. Yakni dengan kembali pada aturan adat yang disebut tudang sipulung atau duduk bersama menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

Tudang sipulung merupakan upaya berkumpul atau bersama-sama untuk menyuarakan kepentingan dalam rangka mencari solusi atas permasalahan permasalahan yang mereka hadapi. Artinya tudang sipulung ini merupakan ruang yang dapat memediasi karena berlangsung berdasarkan prinsip prinsip demokratis.

Selain kedua belah pihak yang bertikai dipertemukan, pada kegiatan tudang sipulung ini beberapa pihak lain, seperti Kepala Desa Rajang, kepala dusun, tokoh masyarakat turut diajak serta. Selain itu orangtua masing-masing yang terlibat, para pelaku, serta polisi yang menangani perkara juga hadir.

Ritual Tudang Sipulung, Cara Keren Toraja Selesaikan Konflik

Perkelahian antar-pemuda di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Tana Toraja, rawan berubah menjadi besar dan melibatkan warga antar-desa. Hal ini tak jarang terjadi jika konflik tersebut tidak diselesaikan dengan baik.

Namun bagi warga Toraja yang masih kental dengan adat istiadatnya atau budaya leluhurnya, perkelahian yang bisa berdampak luas tersebut dapat diatasi. Yakni dengan kembali pada aturan adat yang disebut tudang sipulung atau duduk bersama menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

Hal ini dibuktikan oleh aparat Polsek Lembang Polres Tana Toraja, Sulsel saat menangani masalah perkelahian dua pemuda yang berujung saling balas dendam pada Minggu 24 Juli 2016.

"Awalnya perkelahian dua orang pemuda di Kecamatan Lembang terjadi Selasa 5 Juli 2016 dan berlanjut balas dendam Minggu 24 Juli 2016 kemarin," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Frans Barung di Makassar, Sulsel, Senin (25/7/2016).

"Nah ini bisa berdampak luas melibatkan antar desa di Kecamatan Lembang jika tak ditangani serius. Sehingga dilakukan tudang sipulung dengan menghadirkan kedua pihak yang bertikai di Mapolsek Lembang," sambung dia.

Tudang sipulung, sambung dia, merupakan upaya berkumpul atau bersama-sama untuk menyuarakan kepentingan dalam rangka mencari solusi atas permasalahan permasalahan yang mereka hadapi.

"Artinya tudang sipulung ini merupakan ruang yang dapat memediasi karena berlangsung berdasarkan prinsip prinsip demokratis," ucap Frans.

Selain kedua belah pihak yang bertikai dipertemukan, pada kegiatan tudang sipulung ini beberapa pihak lain, seperti Kepala Desa Rajang, kepala dusun, tokoh masyarakat turut diajak serta. Selain itu orangtua masing-masing yang terlibat, pemuda dari kedua rukun keluarga (RK), serta penyidik yang menangani perkara tersebut.

BACA SELENGKAPNYA  "Nah hasil musyawarah tersebut kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan porsoalan ini secara kekeluargaan mengingat mereka masih mempunyai hubungan keluaga," ujar Frans.


Tidak ada komentar untuk "Menjaga Perdamaian Dunia Ala Masyarakat Toraja dengan Ritual Tudang Sipulung"