Widget HTML Atas

Mengenal Ritual Ma'nene Suku Toraja, Tradisi Membersihkan Mumi Leluhur


Toraja Utara - Ritual Ma'nene merupakan salah satu tradisi yang dilakukan suku Toraja di Sulawesi Selatan (Sulsel). Tradisi ini berupa membersihkan jenazah yang telah meninggal puluhan bahkan ratusan tahun atau yang telah berbentuk mumi.
Ritual Ma'nene masih dijaga oleh masyarakat suku Toraja. Pada tradisi ini, satu rumpun keluarga melakukan pembersihan mumi leluhur sebagai garis keturunannya.

Pemangku adat suku Toraja, Marten Paladan mengatakan, ritual Ma'nene adalah salah satu cara masyarakat Toraja untuk menghormati leluhur yang sudah lebih dulu meninggal dunia. Menurutnya, suku Toraja memang sangat menjaga dan menghormati leluhur.

"Masyarakat Toraja itu selalu memperhatikan leluhurnya. Dari kepercayaan, jika orang Toraja tidak memerhatikan leluhur itu hidupnya tidak akan damai. Nah, Ritual Ma'nene dengan menggantikan baju nene' dan membersihkan, itu sebagai bentuk penghormatan serta perhatian kepada leluhur," jelas Marten kepada detikSulsel, Jumat (2/9/2022).

Tidak hanya membersihkan mumi leluhur, tradisi Mane'ne ini juga memiliki rangkaian ritual lainnya. Diantaranya rumpun keluarga mengadakan acara besar dengan mengorbankan hewan seperti bai atau babi dan kerbau, ritual membuka kuburan atau Pa'tene yang berisi mumi leluhur, dan lainnya.

"Biasanya pihak keluarga juga siapkan hal-hal yang disukai jenazah sewaktu masih hidup. Contohnya, diberikan rokok atau kopi dan sebagainya," ujar Marten

Marten mengungkapkan, ritual Ma'nene pada dasarnya dilakukan 1 tahun sekali. Namun, dalam penyelenggaraannya yang memakan biaya yang cukup besar dan tidak semua satu rumpun keluarga berada di Toraja.

Maka dari itu, Marten menjelaskan berdasarkan hasil musyawarah adat atau Kombongan Kalua beberapa tahun lalu, disepakati bahwa ritual Ma'nene bisa dilaksanakan 3 tahun sekali.

"Dulu itu orang tua kita 1 tahun sekali. Tapi kan sekarang tidak semua masyarakat Toraja berada di Toraja, dan memang saat menggelar ritual itu memakan banyak biaya. Sehingga dulu ada Kombongan Kalua yang diinisiasi tokoh adat. Hasilnya, ritual Ma'Nene bisa dilaksanakan 3 tahun sekali," ungkapnya.

Tahapan Ritual Ma'Nene
Ritual Ma'nene memiliki sejumlah tahapan. Ritual Ma'nene diawali dengan memanjatkan doa menggunakan bahasa Toraja kuno yang dilakukan pihak keluarga yang dituakan.

Setelah itu, pihak keluarga mengurbankan hewan seperti bai atau babi dan kerbau. Jumlah babi yang dikurbankan disesuaikan dengan jumlah mumi di dalam liang, sementara jumlah berdasarkan jumlah kelompok keluarga.

Menurut Marten Paladan, kurban hewan dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Toraja terdahulu atau Aluk Todolo, sang pemilik tubuh tidak bisa sampai ke Puya atau surga jika tidak dikurbankan kerbau.

"Bagi suku Toraja, kerbau ini sangat sakral. Kalau tidak potong kerbau, dipercaya jenazah tidak akan sampai Puya. Kalau potong kerbau biasanya akan dibunyikan gong. 10 kali dibunyikan gong berarti 10 kerbau yang dipotong begitu seterusnya," bebernya.

Setelah pengorbanan hewan, pihak keluarga langsung menyiapkan sirih yang akan diletakkan di liang kuburan yang dipercaya sebagai kunci pembuka. Kemudian, keluarga melakukan pembukaan liang atau biasa disebut Pa'tene.

"Di liang itu bukan hanya berisi satu mumi. Biasanya berjumlah banyak dan itu satu rumpun keluarga," ucap Marten.

Acara Pa'tene pertanda ritual Ma'nene sudah dimulai. Keluarga langsung membuka peti mumi dan menjemurnya sebelum dibersihkan. Biasanya mumi dijemur selama 3 hari hingga 1 pekan, sesuai kesepakatan pihak keluarga.

Setelah kegiatan menjemurnya, pembersihan dimulai dengan mengganti kain alas peti dan baju, Kemudian membersihkan tubuh mumi menggunakan kuas atau kain.

Setelah mumi sudah terlihat bersih dan pakaian sudah diganti. Mumi kembali ditidurkan ke dalam peti dan kembali di masukan ke liang kubur batu. Ritual Ma'nene ini pun diakhiri dengan acara Ma'sisemba atau perkelahian menggunakan kaki.

Asal Usul Ritual Ma'nene
Tradisi ritual Ma'nene konon diturunkan dari kisah seorang pemburu Toraja bernama Pong Rumase. Ia adalah warga Lepong Bulan, wilayahnya meliputi Gowa, Makassar, Luwu, Bastem, Toraja, Mamasa dan sekitarnya sebelum Sulawesi dipetakan.

Pong Rumase meninggal dunia di dalam hutan saat melakukan perjalanan. Kemudian seorang pemuda asal Baruppu' saudara Seregading (Sawerigading) yang hendak mengadu ayam menemukan tulang belulang Pong Rumase di tengah hutan.

"Jadi Pong Rumase ditemukan jazadnya oleh saudara Saweregading di tengah hutan. Tapi karena kesaktiannya, jasad Pong Rumase bisa berbicara kepada pemuda itu. Dia meminta bantuan kepada pemuda tersebut agar jazadnya dipulangkan karena belum diupacarakan," jelas Marten.

Mengabulkan permintaan Pong Rumase, pemuda tersebut langsung membuka pakaiannya dan mengikat jasad Pong Rumase dan membawanya ke tempat yang lebih layak. Setelah itu, pemuda tersebut mendapat keberuntungan selama hidupnya. Tanamannya tumbuh subur dan menjadi kaya raya.

BACA SELENGKAPNYA  "Nah itulah asal muasal ritual Ma'nene. Selain itu, ritual ini mempunyai makna mencerminkan hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi sanak saudara yang terlebih dahulu meninggal dunia. Hubungan keluarga tak terputus walaupun telah dipisahkan. Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya," tandas Marten.


 


Tidak ada komentar untuk "Mengenal Ritual Ma'nene Suku Toraja, Tradisi Membersihkan Mumi Leluhur"